PSBB dan PPKM Jilid 2 di Jabar, F-Demokrat: Evaluasi Total Kebijakan!

Tuesday, 26 January 2021



BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil resmi memperpanjang masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) proporsional pada 25 Januari 2021. Tak hanya durasinya, gubernur juga memperluas cakupan wilayah penerapan PSBB dari 20 kabupaten/kota menjadi seluruh provinsi dengan mengacu kebijakan Pemberlakuan Pembatasan kegiatan Masyarakat (PPKM) jilid II oleh pemerintah pusat.

Kebijakan ini mendapatkan sorotan dari anggota Komisi V DPRD Jawa Barat Asep Wahyuwijaya mengatakan, perluasan cakupan wilayah PSBB proporsional dan PPKM jilid II ini, mengindikasikan bahwa pemerintah pada semua tingkatan harus melakukan evaluasi total atas seluruh kebijakan yang telah dilakukan dalam penanganan pandemi COVID-19.

"Bukan hanya melakukan evaluasi dan perubahan dalam peristilahan dari PSBB menjadi PPKM namun justru jauh lebih mendasar ketimbang soal remeh temeh itu. Sekarang saya tanya, apa sih kebaikan yang ditinggalkan dari kebijakan amburadul yang telah dilakukan pemerintah dalam menangani wabah ini?," ujar Asep saat dihubungi detikcom, Selasa (26/1/2021).

Menurutnya, kasus COVID-19 masih terus meningkat. Tenaga kesehatan pun disebutnya, kewalahan dalam menangani lonjakan pasien. Bahkan tak sedikit tenaga kesehatan yang gugur saat menghadapi pandemi ini. Tingkat keterisian tempat tidur pun kian menipis, sambung Asep, belum lagi skandal paket bansos COVID-19 yang menyeret Menteri Sosial Juliari Batubara.

"Belum lagi kalau kita bicara semakin meningkatnya juga angka kemiskinan dan pengangguran serta bertambahnya pula besaran utang luar negeri kita. Kondisikan faktual yang dibeberkan ini bagi sebagian orang yang mengerti tentu akan mencemaskan bukan? Tapi setidak-tidaknya, hal ini mengindikasikan bahwa upaya pemerintah dalam penanganan wabah ini harus sangat cerdas, jeli dan hati-hati," kata politisi dari F-Demokrat tersebut.

"Jangan main-main atau justru malah memanfaatkan keadaan untuk mengambil keuntungan. Jadi, saran saya sederhana saja, evaluasi total kebijakannya dan mari kita fokuskan pikiran, upaya dan langkah kita untuk keselamatan warga dengan baik dan benar," ucapnya melanjutkan.

Ia berharap tidak ada gelombang kedua penularan COVID-19 di Indonesia, oleh karena itu penanganan gelombang pertama virus Corona ini harus ditangani dengan seksama. "Bagaimana kita akan belajar menangani wabah pada gelombang kedua, apabila penanganan wabah dalam gelombang pertama ini saja tak mampu kita akhiri," katanya.

Sumber: Detik (26/1/2021)

 

No comments:

Post a Comment